Niat Bukanlah Keinginan

123

Niat vs Keinginan

ANDA Tahu bedanya niat dan keinginan? Bagi yang belum tahu, baiklah saya beri tahu, niat merupakan sesuatu yang sudah sampai tahap dikerjakan dan dimulai, baik itu dengan do’a, gerakan, action, amal, ikhtiar, dan tahu kapan akan dikerjakan, sedangkan keinginan merupakan sesuatu yang hanya sampai angan-angan saja tanpa action, masih hanya direncanakan, baru mau dikerjakan dan belum sampai tahap memulai. Jadi keduanya memiliki perbedaan yang sangat signifikan bukan? Anda cendrung yang mana dalam hal sukses, apakah masih tahap keinginan atau sudah tahap niat? Anda pasti tentu yang tahu jawabannya, bukan saya dan juga tentangga saya, hehehe, ada ada saja.

Baik, saya mau bertanya, sudahkah anda berniat untuk berhaji ke Baitullah? Kalau anda katakan sudah, artinya anda sudah memulai menabung untuk haji, punya buku tabungan haji, dan juga sudah punya passport, betul? Itulah yang disebut dengan niat tadi, sudah sampai tahap memulai dan dikerjakan. Action nya ada, nyata dan tidak angan-angan. Begitupun dalam hal niat membeli mobil, kalau anda sudah niat artinya anda pasti sudah ke dealer mobil, ya gak? sudah mulai bertanya sana sini, sudah mengambil brosurnya, sudah meneliti tentang beberapa mobil, niat juga tidak mewajibkan anda untuk mampu membeli, tidak harus anda kaya dulu, tidak usah, karena siapapun bisa berniat, contohnya saja saya pada saat itu berniat ingin membeli mobil, namun na’as uang belum mencukupi, tapi niat semakin meninggi, yaudah apa yang bisa saya lakukan maka saya lakukan, contohnya begini :

  • Saya mulai dengan do’a, berdo’a setiap kali saya ingat tentang mobil tadi, baik itu selesai sholat dhuha ataupun selesai sholat tahajud
  • Sementara saya sendiri belum bisa mengendari mobil apalagi mengerti tentang mobil
  • Ketika ke mall atau kebetulan melewati penjualan mobil, saya pastikan selalu datangi tuh para sales mobil, saya bertanya gak karuan pada saat itu, tentang mesin mobil-lah, tentang beda automatic sama manual apalah, tentang proses pembayaranlah, pokoknya pura-pura profesionalah, padalah saya lagi bokek pada saat itu, hehehe
  • Namun dream tadi membangunkan saya untuk melek bisnis agar mampu beli mobil dengan membayar cash
  • Agar tahap niat saya menjadi lebih tinggi, maka ketika itu saya beranikan diri untuk menyewa mobil yang akan saya beli, contoh grand livina, kebetulan mirip body nya dengan mobilio, saya sewa 1 harian, saya ingin menafsir apakah saya memang cocok dan pantas membeli ini mobil atau hanya mimpi saja, hehe
  • Ternyata benar, setelah kita mencobanya, akan mendekatkan kita dengannya. Saya jadi semakin cinta dengan mobil tadi, alhamdulillah atas izin Allah saya dipertemukan dengannya, hehe, kayak jodoh saja ya, tapi emang begitu, apa yang kita niatkan, itu memang harus jodoh kita. Siap?
  • Tapi ingat, ini untuk benda ya, harus dicoba dulu, kalau mau nikah, jangan dicoba dulu, tapi langsung nikah, BEDA.

Coba kita renungkan dua kalimat berikut ini :

  • Saya punya niat berhaji ke Baitullah suatu saat nanti
  • Saya punya keinginan berhaji ke Baitullah suatu saat nanti

Dari 2 kalimat ini, manakah yang lebih meyakinkan? Pastilah kalimat pertama, bukan? Karena niat tentulah bukan keinginan. Bukankah semua amalan tergantung pada niatnya (HR Bukhori), kalau niatnya baik maka tentulah semuanya akan baik, kalau niatnya buruk tentulah semuanya busuk. Betul? Bahkan pada saat memulai sholat pun tentulah dimulai dengan niat, mau puasa dimulai dengan niat, haji, zakat, mandi wajib, mandi sunnah, semuanya haruslah dimulai dengan niat, niat yang lurus karena Allah.

Tahapan niat juga sama dengan target, ketika saya seorang mahasiswa semester 1, saya sudah berniat mau menikah ketika sudah berumur 21 tahun, padahal saat itu umur saya baru 17 tahun, saya bukan sekedar kata-kata, saya buktikan dengan menabung khusus untuk nikah saya nanti, saya bekerja paruh waktu saat itu, gaji saya sebagian dikirim ke orang tua, sebagian untuk kehidupan kuliah dan nabung target nikah, dan ternyata Allah sesuai prasangka hamba-Nya, saya nikah di umur 21 tahun. Kejadian bukan? Ini tidak mungkin kebetulan. Dan hal ini juga kejadian ketika saya berniat lulus kuliah di semester 8 atau 4 tahun kuliah, kuliah saya rampung di semester 8. Itu semua terjadi adalah dengan niat yang kuat, kalau niat sudah kuat, alam bawah sadar kita akan merekam target dengan kuat bahwa kita akan sampai tepat pada waktunya.

Namun bagaimana dengan orang yang sudah menargetkan lulus kuliah, sudah berniat kuat namun tidak juga kunjung lulus, itu berarti ia tidak sungguh-sungguh berniat, niatnya hanya sebatas permukaan, tidak sampai tahap masuk ke alam bawah sadar. Lantas bagaimana niat tadi agar masuk ke alam bawah sadar? Ini pertanyaan kritis, hehehe. Begini, ada sebuah cerita, cerita ini adalah nyata pengalaman sahabat saya sendiris, anggaplah namanya Arif, Arif ini selalu rangking 1 di sekolahannya, dari SD, SMP bahkan SMA. Belum ada satupun teman seangkatannya yang nilainya mengungguli nilai si Arif tadi. Saya mulai meneliti si Arif dengan bertanya langsung kepadanya, “Arif, kamu itu kok pintar sekali ya, apa resepnya” tanya saya, “saya biasa saja dik, tidak ada resepnya” jawab si Arif, “ayo dong kasih tahu rif”, paksa saya. “begini dik, saya berasal dari keluarga yang tidak mampu, dari segi finansial kami sangat kekurangan, makan saja 2x sudah syukur, kebetulan saya dapat beasiswa untuk para rangking 1 dari salah satu bank syariah di kota ini, jika saya dapat rangking 2 (atau dibawah rangking 1) maka beasiswanya akan ditarik, mau gak mau saya harus belajar keras, terbawa dengan sendirinya, disamping itu juga orang tua saya sudah tua, sibuk mencangkul disawah, saya lihat dengan mata kepala saya sendiri bahwa ayah saya mencangkul dengan penuh lelah demi menghidupi anak-anaknya, ini yang membuat diri saya berniat kuat dan mentargetkan bahwa saya harus sekolah dengan baik, harus menjadi orang yang pintar, agar nasib keluarga kami berubah” cerita Arif dengan penuh haru. Begitulah saya melihat orang yang memiliki niat yang kuat sampai masuk ke alam bawah sadarnya.

Iya, niat erat kaitannya hubungan dengan Hablumminallah, yaitu hubungan kita terhadap Allah, karena niat hanyalah diri kita sendiri dan Allah saja yang tahu, niat itu adalah perbuatan hati,  bukan perbuatan jasadiyah, jadi siapapun akan susah menilai niat seseorang, kadang niat baik seseorang bisa buruk dimata manusia, kadang niat buruk seseorang bahkan dinilai baik oleh manusia, itulah manusia tempatnya salah dan dosa (H.R Tirmidzi). Tugas manusia bukanlah menilai niat seseorang, tapi tugas kita adalah melihat akhlak manusia, kalau baik akhlaknya, anggap saja niat dia berbuat baik, ya gak? tapi kita tetap harus waspada dan berhati-hati. Berbeda berprasangka buruk dengan kewaspadaaan, kalau persangka buruk lebih kepada menilai nait bukan pergerakannya, kalau waspada menilai dari gerak geriknya, kalau mencurigakan tentulah kita harus berhati-hati. Betul? bukankah para maling begitu lembut perkataannya, bukankah para koruptor begitu gagah pakaiannya. Tetaplah prasangka baik tapi jangan sampai tertipu.

 

SHARE
Previous articleDo’a Vs Ikhtiar
Next articleNiat Kesasar Berbahaya

LEAVE A REPLY