Maksiat Yang Berbuah (Maksiat Jariyah)

63

Dari kecil saya sering melihat seorang anak remaja putri yang mencaci maki Ibunya sendiri, tidak mau mendengar omongan Ibunya, tidak takut terhadap ayahnya, selalu kabur dari rumah tatkala dimarahi, minta uang seenaknya sendiri, anak remaja putri itu  pun sekarang sudah dewasa dan memiliki seorang anak, anehnya ntah disengaja ataupun tidak, anaknya tidak kalah nakalnya, ia lakukan persis dahulu Ibunya, ia memaki Ibunya, bahkan ia berani memukul Ibunya, ini kenyataan, terjadi di kota saya Medan. Oleh karena itu, kalau mau anak kita baik, maka mulailah dari diri kita sendiri untuk selalu berbuat baik kepada siapa saja, lebih lebih kepada kedua orangtua kita. Siap?

Adalah benar jika maksiat itu bisa berbuah, bahkan beranak pinak sebagaimana manusia pada lazimnya, Cuma maksiat yang berbuah adalah sifatnya, akhlaknya, contohnya, bahkan bisa menjadi maksiat jariyah, itulah yang ia tiru sehari-hari, setiap dosa yang dilakukan orang lain akan terciprat juga dosa bagi anda yang memulainya, iya kan? Bukankah orangtua merupakan contoh tauladan bagi anaknya, orangtua yang baik akan menuai buah yang baik, begitupun sebaliknya, orangtua yang buruk akan menuai buah yang buruk.

Anda kepingin punya anak yang sholeh atau sholehah? Mulaikan dari diri anda dahulu, jadikan diri anda sholeh insyaAllah anak anda pun akan sholeh, anda kepingin punya murid yang taat, anda dahulu yang memulai untuk taat, jangan telat ketika mengajar, jangan korupsi waktu, dan lain sebagainya, insyaAllah murid anda pun akan meniru hal seperti itu. Siap?

Bukankah cerminan kita adalah dreams atau mimpi kita, yang akan siap menjadi kenyataan, begitupun maksiat sebagai pembatas, penghalang, bahkan mewarisi ke semua kalangan terdekat kita. Perhatikanlah buah, akan jatuh disekitar pohonnya, tidak akan jauh. Orang terdekat kita sifatnya tidak akan jauh dengan kita, begitu pula anak kita, sifatnya puntidak akan jauh dari kita, betul?

LEAVE A REPLY