Di hari minggu, Adi datang kerumah wawan dan kemudian memamerkan HP iphone 6 plus terbarunya, Adi mengatakan bahwasanya ia telah sukses dan kaya, wawan pun mengatakan “wah hebat udah sukses temanku”. Di malam harinya, mereka pun bertemu reunian bersama teman-temannya semasa SMA, ada yang naik BMW, Alphard, minimal ya Honda jazz. Di pertemuan itu semua saling pamer kekayaan, pamer jam baru, HP baru, Gaji di perusahaanya, dan lain sebagainya.

Sementara hanya wawan yang membawa HP jadul, sekaligus pakaian apa adanya, bahkan ia membawa sepeda motor tahun 1973 yang harganya hanyalah 2,5 juta. setelah saling pamer kekayaan dan selesai makan, ternyata tidak ada satupun yang berinisiatif untuk membayar makanan yang telah habis dimakan oleh mereka semua, yang ngaku paling kaya pun menunggu untuk bayar bersama-sama.

Tapi si Wawan yang bermental kaya, berbeda dengan yang lainya. Ia datang menuju kasir dan membayar makanan mereka semua, JEGRENGGGGG!!!!, semua terpelongo, dan memperhatikan si Wawan tadi, bagaimana mungkin ia bisa membayar itu semua, bahkan mimik wajahnya biasa saja membayar makanan di resto yang begitu mahal, sementara hanya dia yang tidak memamerkan hartanya. Si Wawan pun celetuk “Yuk pada pulang sudah malam”. Hehehe

Ternyata si Wawan adalah pengusaha sukses, uang bertubi-tubi mendatangi atau mengejar dirinya, ia bahkan biasa saja dengan harta, karena sudah biasa bertemu dengan harta, setiap jam saldonya berbunyi bertambah dan bertambah, sedangkan temannya tadi, adalah seorang karyawan yang digaji tidak seberapa, mereka mengejar harta, dan bertemu hanya sekali setiap bulannya, yaitu setiap tanggal satu. Siapakah yang lebih akrab dengan harta? Tentulah si Wawan, setiap hari bertemu dengan uang, dan Siapakah hubbudunya? Bisa jadi orang yang sibuk mengejar harta bukan yang dikejar harta. Betul? Itulah konsep sederhana sebenarnya, menuai manfaat sebesar-besarnya, sementara untuk dirinya hanyalah secukupnya. ITU

Kadang-kadang konsep sederhana sering disalah artikan, lihat saja, harta sedikit disebut sederhana, ilmu sedikit disebut sederhana, impian gak jelas disebut sederhana, prestasi belum seberapa disebut sederhana, amalan sedikit disebut sederhana, finansial masih jatuh bangun disebut sederhana, bukan itu yang kita maksudkan, sederhana yang kita maksudkan bukanlah orangnya, bukanlah aktifitasnya, bukanlah harta, pangkat dan jabatannya, melainkan sikapnya, iya, sikapnya. Itu dia bedanya.

Miskin dulu baru sederhana? Salah, mau miskin, mau kaya tetaplah sederhana, tapi kalau manfaat, jadilah manfaat yang seluas-luasnya. Kalau bermimpi, bermimpilah sebesarnya, kalau beramal, beramalah sebanyak-banyaknya, kalau berniat dan berdo’a tentulah harus bersungguh-sungguh dan yakin. Siap? Semua itu harus di fokuskan dan dibedakan. Ada tuntunannya, tidak bisa sembarangan.

Konon Nabi punya onta Al-Qashwa yang paling mahal di zaman itu, ibarat kita kalau mobil itu sejenis ferrari atau BMW, tapi nabi makan hanyalah dengan kurma, minum dengan air zam zam, tidur diatas pelepah kurma, namun jika Nabi berqurban, beliau keluarkan hingga 100 ekor unta, itulah sikap sederhana sesungguhnya. Pembedanya apa? pembedanya adalah untuk diri sendiri beliau begitu sederhana, untuk manfaat sekitar beliau begitu menuai manfaat. Kira-kira di dunia ini siapa yang pernah berqurban melebihi 100 ekor unta? Gak ada kan.

Lihatlah pengusaha Elang Gumilang, beliau memiliki omset diatas 12 digit, namun mobil beliau hanyalah Honda CR-V, padahal mobil termahal didunia pun bisa ia beli, namun ia hanya mengatakan, itu saja sudahlah cukup baginya, itulah konsep sederhana. Bukan memiliki penghasilan kecil tapi barang mewah dimana mana, hutangpun dimana mana, itu justru konsep salah.

Itu beberapa konsep kaya namun sederhana versi Didik Arwinsyah, bagaimana menurut para blogger sekalian, jangan lupa di share dan di koment ya, mudah mudah bermanfaat bukan hanya di diri kita melainkan untuk orang lain juga

 

 

LEAVE A REPLY