Niat Kesasar Berbahaya

51

Pernahkah anda pergi kesesuatu tempat A, tapi ternyata anda kesasar ke tempat B, apa yang anda rasakan ketika anda kesasar kesuatu tempat? Pastilah rasanya tidak enak, yang seharusnya ke tempat A malah ketempat B. Padahal tadinya di tempat A anda akan bertemu dengan keluarga, dapat hadiah dari keluarga, namun anda ternyata kesasar ke tempat B yang tidak ada sesuatu menarik disana. Begitulah jika anda salah niat, salat zuhur anda niatkan salat ashar, apakah diterima amalnya? Sudah tentu pasti tidak akan diterima amalnya.

Kembali ke Niat kesasar tadi, konsepnya sederhana, segala perbuatan melibatkan akhirat haruslah berniat karena Allah Subhanahu Wata’ala. Contoh Haji karena Allah, Sedekah karena Allah, Zakat karena Allah, Salat karena Allah, Puasa karena Allah, sesuatu amalan haruslah berlandaskan niat karena Allah semata.

Kalau soal niat karena Allah maka artinya sama dengan ikhlas, teman teman setuju jika ikhlas itu perlu latihan, perlu kebiasaan? Dijawab ya, tet, waktu habis,hehe, jelaslah ikhlas itu perlu latihan dan perlu kebiasaan. Ada yang mengatakan begini, kalau salat tuh yang ikhlas, padahal yang salat barulah anak remaja yang belajar salat, kalau puasa tuh yang ikhlas, padahal yang puasa adalah anak kecil berumur 6 tahun yang sedang belajar puasa, kalau udah begini yang menyampaikan harus tahu konsep keikhlasan sendiri atau niat murni karena Allah semata dan sabar. Setuju atau setuju J

Iya, segala sesuatu yang pertama kali dikerjakan dan baru belajar, pastilah yang dikerjakan itu adalah berat, maka dapat dipastikan tidaklah ikhlas mengerjakan hal itu, contohnya, kalaulah anda pernah masuk pondok pesantren, maka anda tahu bahwa diawal masuk pesantren, semua anak harus menjalankan salat tahajjud, jam 3 pagi bro, pasti sangat berat bagi pemula, betul ya..Nah yang herannya, yang biasanya tidak pernah salat tahajjud sebelumnya, dia mampu bangun salat tahajjud, kok bisa ya, bukan karena apa, malu aja kalau tidak ikutan salat tahajjud atau takut dihukum jika tidak mengerjakan salat tahajjud. Pertanyaannya, apakah mereka yang tidak biasa salat tahajjud tadi, kemudian salat tahajjud ikhlas karena Allah? Kalau saya boleh jawab, ia harus proses untuk mendapatkan gelar ikhlas, karena rata-rata kalau mau ditanya jujur tentulah mereka berniat karena takut dihukum, atau malu dengan yang lain. Apakah ini termasuk terpaksa? Iya jelas ini suatu paksaan, namun paksaan baik, tingkatan terendah dalam hal beribadah adalah paksaan, makanya anak yang sudah berumur 10 tahun harus dipaksa untuk salat, jika tidak, maka disunnahkan untuk memukulnya.:)

Berikut tingkatan Niat Ikhlas Karena Allah :

Jadi untuk mendapatkan point ikhlas, anda harus berjuang melewati 4 tahapan, baru masuk ketahapan ke 5, kalau saya bertanya, apakah anda ikhlas tidur setiap malam? Tentulah anda akan mengatakan ikhlas, karena sudah masuk ke tahap kebutuhan, enak, enjoy dan tidak ada paksaan.  Begitu juga anda berniat karena Allah semata sama saja anda ikhlas mengerjakannya, contoh anda puasa ramadhan diwaktu kecil umur 6 tahun, apakah anda ikhlas puasa tersebut niat karena Allah? pasti jawabannya tidak, melainkan niat karena biar dapat uang dari papa, ayah atau mama, ibu. Atau juga niat agar dapat pujian hebat dari kakak-kakak, adik, saudara, sanak keluarga karena dapat puasa di bulan ramadhan [istilah kerennya Riya tingkat anak-anak], tapi setelah anda dilatih untuk berpuasa terus menerus akhirnya anda sadar bahwa puasa itu menjadi terbiasa buat anda, setelah anda terbiasa di usia dewasa, maka anda akan masuk ke level enjoy tanpa harus pamer sana sini kalau anda berpuasa, karena sudah terlalu rutin setiap tahunnya, setelah itu masuklah anda ke tahap ikhlas, murni niat karena Allah Subhanahu Wata’ala semata. Paham ya?

Konon ada cerita, seorang siswa saling pamer sumbangan dikelas, pak guru pun mengumumkan setiap anak yang menyumbang, Adi menyumbang 50 ribu, Anto menyumbang 60 ribu, sambil mengumumkan sumbangan tadi, ada seorang anak bernama Radit menyeletuk begini, “Ah pada pamer Riya semuanya, masa namanya juga diumumkan” sambil bincang ke teman satunya. Kemudian tak lama kemudian pak guru “ Hamba Allah menyumbang 30ribu”. Kembali si Radit menyeletuk “ Nah itu baru gak pamer,gak riya,  gak disebutkan namanya, kamu tahu siapa hamba Allah itu, itu aku lho”. Hehehe.. Nah friend kira kira siapa yang paling pamer disitu? yups pasti anda bisa menebak, tentulah si Radit tadi, tadinya ia ingin tidak disebutkan namanya tapi ternyata disebutkan juga namannya, Nah justru malah terkesan lebih riya, oleh karena itu, sumbang saja terus sambil meluruskan niat kita, abaikan clotehan orang lain, lakukan terus menerus sampai kita merasa enjoy dan sangat terbiasa agar kita masuk ke level ikhlas. Sedekah terang terangan boleh? Yah boleh, siapa mengatakan gak boleh, sedekah diam-diam lebih boleh lagi, yang tidak boleh itu diam diam tidak sedekah. Nah itu J

So kesimpulan dari niat kesasar tadi bahwa, niatlah kita karena Allah, karena balasan dari Allah seperti pahala, bukan balasan dari orang lain seperti pujian, karena niat yang tulus akan mengantarkan kita ke pulus, serta kebahagiaan dunia dan akhirat, sementara niat bukan karena Allah hanyalah niat semu yang kesasar ntah kemana membuat kita semakin terlena, bukannya untung malah buntung. Setuju? Setuju ya, kalau begitu, lanjut terus bacaannya ya. Siappppp.

SHARE
Previous articleNiat Bukanlah Keinginan
Next articleNiat vs Bisnis

LEAVE A REPLY