Musibah vs Harapan

62

Flashback Tahun 2008, tahun ini merupakan tahun yang penuh dengan musibah bagi saya serta keluarga saya, mulai dari kecelakaan, dompet sering hilang, sering ketangkap tilang polisi, dan lain sebagainya. Cuma  yang paling sakit bagi saya adalah meninggalnya sosok orang yang paling saya cintai yaitu Ibu saya, pada saat itu saya masih kuliah di Jogja, dan Ibu saya berada di Medan, sementara saya tidak punya uang untuk pulang ke kampung halaman, boro boro untuk ongkos pulang, untuk makan sehari hari saja sangat sering kekurangan. Saya nangis sejadi-jadinya karena tidak bisa pulang. Harapan saya adalah ada seseorang yang mau meminjamkan uangnya untuk beli tiket pesawat jogja-medan, namun karena mepet waktunya, harga tiket  pun menjadi dua kali lipat, dan semakin mahal, harapan saya semakin menipis.

Disela musibah itu terjadilah keajaiban harapan, alhamdulillah didalam kesulitan ada jalan yang tidak disangka-sangka dari Allah, pintu kamar saya diketok oleh seseorang, kemudian memberikan sebuah amplop santunan yang katanya berasal dari sebuah lembaga pondok mahasiswa di Jogja, masyaAllah uang itu sudah lebih dari cukup untuk pulang pergi Jogja-medan, dan akhirnya pun saya dapat melihat mayat almarhumah ibu saya sebelum dikebumikan.

Ternyata tidak selesai sampai disitu, januari 2014 keluarga kami kembali diserang musibah, kali ini bapak saya yang meninggal dunia. Saat itu saya sangat merasa bahwa apakah hidup saya ini sudah berakhir, bagaimana mungkin, orang yang akan saya bahagiakan tinggal satu-satunya akhirnya meninggalkan saya selama lamanya, saya lemas dan lesu, merasa inilah hidup saya yang terakhir.

Tapi setelah melihat keluarga saya yang masih terus menyemangatin saya yaitu uwak (Pakde atau Bude), tante (bulek), kakak, abang, keponakan, dan lain lain, saya merasa harapan itu muncul kembali, bahkan melebihi dari harapan saya sebelumnya.

Kenapa bisa begitu? Karena didalam jiwa dan raga saya bangkit dan bersumpah kepada Allah bahwa selamanya akan menjadi orang yang bermanfaat untuk sesama, menjadi orang yang sukses, menjadi orang yang siap hidup untuk beribadah kepada Allah, agar kelak Almarhumah Ibu dan Almarhum Bapak saya mendapat nikmat kebaikan di alam kubur. Bukankah setiap kebaikan seorang anak dihitung amal jariyah oleh Orangtuanya. Itulah yang menyebabkan saya harus menjadi seseorang yang berguna.

Saya simpulkan bahwa, tidak semua musibah itu menjadi ancaman bagi kita semua, justru yang ada adalah musibah menjadikan diri kita lebih matang dalam menghadapi segala cobaan yang lain, kita siap untuk itu semua, karena kesiapan inilah akhirnya kita akan menjadi seorang pemenang, harapan dan impian pun menjadi nyata dan terwujud. Itulah yang disebut dengan musibah melahirkan keajaiban harapan, Iya kan? Bukankah untuk mendapatkan gelar doktor saja anda harus belajar setidaknya minimal 9 tahun di Kampus yaitu 4 tahun S1, 2 tahun S2 dan 3 tahun S3. Apakah itu ancaman atau musibah bagi anda? Itu hanyalah tantangan, dan kelak akan menjadi harapan baik bagi anda. betul?

Kali ini musibah yang berbeda, apa itu, begini ceritanya. Suatu ketika, ada seorang mahasiswa yang ditelepon orangtuanya bahwa orangtuanya tidak mampu lagi untuk mengirim uang bulanan kepadanya, apa yang terjadi? Si mahasiswa tersebut ketakutan, takut tidak bisa makan, takut tidak bisa bayar uang kontrakan, takut tidak bisa melanjutkan kuliahnya, dan lain sebagainya. Disatu sisi ia merasa terancam, disisi lain ia merasa ada peluang dan harapan. Kalau hanya mengandalkan takut, mau sampai kapan, sementara umur semakin matang, betul? kuliah sudah semester empat, harusnya siap mandiri dan berusaha agar dapat hidup di Jogja. Bahkan sempat terlintas dipikirannya bahwa binatang saja seperti ayam tidak memiliki akal, pergi pagi pulang petang bawa tembolok kenyang. Masa sih sang mahasiswa yang memiliki akal bahkan cerdas kalah sama ayam, tidaklah mungkin Allah menyia-nyiakan hambanya yang mau berusaha. Ingat Man Jadda Wajada.

Singkat cerita si Mahasiswa tadi akhirnya bekerja sebagai pengajar privat, berbisnis, dan lain sebagainya. Dalam satu angkatan di Jurusan, ia merupakan lak-laki lulusan pertama. Apa yang ia lakukan semasa kuliah? Disaat temannya sibuk mengerjakan tugas, dia sibuk bekerja sambil mengerjakan tugas, disaat temannya sibuk main dan liburan, dia sibuk mencari uang untuk makan demi kehidupannya sehari-hari, itu yang ia lakukan setiap hari, ia berbisnis, berjualan potel dan kacang telor dibungkus kecil-kecil yang kemudian dijualkan ke beberapa kost di Yogyakarta. Alhamdulillah juga walaupun IPK tidak seberapa ia telah terpilih dua kali untuk ajang nasional mewakili kampusnya mengalahkan ribuan proposal yang masuk, dan terpilih Musabaqoh Nasional di Aceh mewakili kampusnya. Mungkin anda sudah menebak siapa mahasiswa itu? Dengan rendah hati saya utarakan, dialah saya sendiri, Didik Arwinsyah.

Hendaknya, rangkaian kejadian di atas menyadarkan kita semua bahwa menjadi pemenang itu adalah hak siapa saja. Iya, hak siapa saja, dan mengajarkan kita dengan perkataan nabi “Man Jadda Wajada”, siapa yang bersungguh-sungguh pasti akan bisa dan berhasil. Siap?

 

LEAVE A REPLY