Apa Benar Kaya Itu Lebih Baik Daripada Miskin

Dari segi ilmiah, kaya akan menentramkan jiwa, meredam rasa marah, dan membangkitkan gairah kebahagiaan. Karena dengan kaya ia akan mempermudah segala urusannya, ingat harta bukanlah tujuan kita melainkan alat untuk mempermudah kebahagiaan saja. Ok. Tapi mas didik, bukankah banyak juga orang yang kaya tapi jiwanya tidak tentram, tidak bahagia.  Kalau itu namanya kaya yang tidak berkah, kalau tentram tentulah berkah, kalau tidak tentram tentulah tidak berkah. Kok bisa tidak berkah? Karena ia gunakan bukan untuk kebaikan dijalan-Nya melainkan untuk keburukan. Tapi kalau mau dibandingkan banyakkan mana, apakah orang kaya yang bahagia atau orang miskin yang bahagia? Tentulah kaya yang berbahagia, betul gak, kalau saya pribadi sih lebih baik milih kaya yang bahagia dan berkah insyaAllah.

Kalau dari segi Agama, kaya itu justru sangat dianjurkan, Nabi kita kaya, khodijah kaya, pada pendiri islam di Indonesia juga kaya kaya dan juga sebagian rukun islam kita berhubungan dengan harta yang tidak sedikit, contohnya zakat dan haji, zakat hanya dilakukan oleh orang yang kaya terhadap orang yang miskin, haji juga dilakukan oleh orang yang kaya atau orang yang mampu. Kalau gak mampu, yah gimana mau berzakat, gimana mau berhaji. Betul?

Sedangkan dari segi kewajiban, adalah Qurban ibadah wajib yang dilakukan oleh orang kaya setiap tahunnya. Banyak orang yang tidak bisa berqurban rata-rata karena faktor finansial, tidak ada uang, tidak mampu, belum merasa terpanggil untuk qurban, emang mau mati terpanggil? hehe, serta masih banyak tanggungan dan lain sebagainya,  padahal hukum qurban adalah wajib bagi yang mampu lo, sebagian ulama juga mengatakan bahwa hukum berqurban adalah wajib. Serta beberapa ulama memperbolehkan berhutang untuk berqurban, itu menunjukkan betapa besar manfaat berqurban jika kita mengetahuinya.

Apakah harga rokok mahal? Mahal gak? kalau 1 butir ma enggak, kalau 1 bungkus perhari lumayan itu untuk beli beras. Betul gak?

Coba kita hitung bersama :

  • 1 hari merokok            = Rp. 12.000/bungkus
  • 1 bulan merokok         = Rp. 360.000,-
  • 1 Tahun                       = Rp. 4.320.000,-
  • Harga Kambing           = Rp. 2.500.000,-
  • Sisa keuangan = Rp. 4.320.000,- dikurangi Rp. 2.500.000 = 1.820.000,-

Sekiranya anda tidak merokok, anda bisa berqurban seekor kambing bahkan sisa sebanyak Rp.1.820.000, betul tidak? Hehe, sudahlah, bukankah di bab sebelumnya tadi sudah kita pelajari ilmu bercermin, lebih baik anda berpikir positif tanpa harus mencari kesalahan-kesalahan yang lain. Siap?

Sebelum berlanjut, ngomong-ngomong ada yang tahu hukum Haji ke Baitullah gak? hukum haji ke Baitullah adalah lebih dari sekedar wajib, karena sudah masuk tahap rukun yaitu rukun islam, bagaimana mengenai rukun? haji merupakan salah satu rukun islam, jika tidak dilaksanakan berarti keislamannya batal, iya, keislamanya akan batal, sebagaimana shalat, rukun shalat adalah membaca al-fatihah, maka jika ia tidak membaca al-fatihah artinya sholatnya batal, ataupun puasa rukunnya adalah niat, jika tidak berniat maka puasanya batal. Dan lain sebagainya

Tapi kan haji bagi yang mampu mas didik, kalau ngomong mampu mah semua orang bisa alas-alasan tidak mampu, zakat juga bagi yang mampu, kalau tidak mampu yah dizakatin, puasa juga bagi yang mampu, kalau tidak mampu yah bayar fidyah atau diganti dengan hari yang lain, sholat juga bagi yang mampu, kalau tidak mampu sholat berdiri, yah dengan duduk, kalau tidak mampu duduk yah dengan berbaring, betul ya? Jadi mampu ataupun tidak mampu bukanlah sebagai alasan. Kalau Allah sudah mensyariatkan Haji sebagai rukun islam, artinya manusia berpotensi bisa dan mampu untuk berangkat kesana, bedanya ada yang serius dan ada yang tidak serius menanggapi hal ini.

Coba lihat fakta, berapa banyak orang kaya yang belum berangkat haji, apakah ia tidak mampu? Bukan, melainkan ia tidak ingin berhaji, ia tidak serius ingin berhaji. Namun berapa banyak pula yang uangnya biasa saja namun bisa berangkat haji,  karena apa? karena kuat niatnya dan serius untuk berhaji. Itu bedanya. Tanamkan saja dalam diri bahwa kita mampu dan akan berangkat haji ke Baitullah, kalaupun Allah memanggil kita sementara kita belum haji, tentulah kita sudah dapat pahala haji karena sudah berniat haji sebelumnya.

Terakhir dari segi sosial, begini, mungkin kita mampu hidup miskin, kita mampu punya rumah kecil, kita mampu makan sekali sehari,  tapi keluarga kita, orangtua kita, istri kita, apakah sanggup kita melihat mereka sengsara? Mereka semua pasti berharap agar kita kelak menjadi orang yang mapan dan bermanfaat untuk umat. Betul? Sudahlah kaya saja, ayo move on. 😀

2 COMMENTS

  1. Siap pak Didik. Aku juga ingin kaya yang berkah dan bermanfaat utk orang lain pak.
    Semoga niatku dimudahkan oleh Allah SWT,
    Amin. Mohon bimbingannya pak Didik – Yudhi

LEAVE A REPLY